Transplantasi Terumbu Karang Untuk Pemanfaatan Berkelanjutan

Authors

  • angela1004 ruban, Universitas Pattimura,  Indonesia
  • Saiful Saiful, Universitas Pattimura,  Indonesia

Keywords:

Kata Kunci_Tranplantasi Kata Kunci_Terumbu karang Kata Kunci_Rehabilitasi Kata Kunci_Pemanfaatan Kata Kunci_Masyarakat pesisir

Abstract

Perubahan terumbu karang sangat dinamis dari waktu ke waktu karena sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan aktivitas manusia. Terumbu karang yang sudah dalam kondisi rusak membutuhkan waktu yang lama untuk dapat kembali pulih karena laju pertumbuhan karang yang cenderung lambat. Oleh karena itu diperlukan intervensi manusia untuk memperbaiki kondisi dan mempercepat laju pertumbuhan karang, salah satunya dengan melakukan transplantasi karang karang pada daerah yang mengalami kerusakan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Maluku Tengah Tahun 2016, luas keseluruhan terumbu karang di Kecamatan Leihitu sebesar 678,20 ha yang terdiri atas 621,90 ha dengan kondisi baik dan 56,30 ha kondisi rusak, salah satu daerah yang mengalami kerusakan terumbu karang adalah Negeri Morella. Kegiatan yang dilaksanakan terdiri atas penyuluhan kepada masyarakat tentang manfaat ekologi dan ekonomi ekosistem terumbu karang bagi kehidupan Masyarakat menggunakan metode ceramah dan diskusi, serta aksi nyata transplantasi terumbu karang. Melalui kegiatan penyuluhan dan transplantasi 1.000 karang yang dilakukan, sebagian masyarakat yang belum memahami tentang manfaat ekologi dan ekonomi ekosistem terumbu karang dapat memperoleh informasi dan pemahaman tersebut serta sebagai salah satu upaya untuk menjaga keberlangsungan pemanfaatannya.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Maluku Tengah. (2016). Luas dan Kondisi Terumbu Karang, Hutan Mangrove dan Padang Lamun dirinci per Kecamatan di Kabupaten Maluku Tengah, 2015. Maluku, Indonesia.

Dean, A. dan D. Kleine. (2012). Terumbu Karang dan Perubahan Iklim (Coral Reefs and. Climate Change). The University of Queensland. Queensland.

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut. (2015). Pedoman Rehabilitasi Terumbu Karang (Scleractinia). Kementerian Kelautan dan Perikanan Rebuplik Indonesia.

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut. (2016). Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Karang Periode I: 2017 – 2021. Kementerian Kelautan dan Perikanan Rebuplik Indonesia.

Giyanto., Abrar, H., Hadi, T. A., Budiyanto, A., Hafizt, M., Salatalohy, A., Iswari, M. Y. (2017). Status Terumbu Karang Indonesia 2017. Coremap-CTI dan Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI.

Mahakena, M. A., Siahainenia, S. M., Sahetapy, D. (2021). Valuasi Ekonomi Ekosistem Terumbu Karang Pulau Warbal Di Kawasan Konservasi Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara. Jurnal TRITON Vol 17 (2): 104 – 116. DOI: https://doi.org/10.30598/TRITONvol17issue2page104-116.

Ramadhan, A., Lindawati., Kurniasari, N. (2016). Nilai Ekonomi Ekosistem Terumbu Karang Di Kabupaten Wakatobi. Jurnal Sosek KP, Vol 11(2):133-146.

Supriharyono. (2010). Pelestarian dan Pengelolaan Sumber daya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. Jakarta. Gramedia.

Tuwo, A.H. (2011). Pengelolaan Ekowisata Pesisir dan Laut: Pendekatan Ekologi, SosialEkonomi, Kelembagaan, dan Sarana Wilayah. Surabaya: Brilian International.

Wahyudin, Y., Adrianto, L. (2012). Analisis Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan di Selat Lombok (Economic Analysis of Natural Resources and Environment in Lombok Strait). PKSPL-IPB Working Paper, Vol 3(1): 1-36.

Downloads

Published

2023-11-22

How to Cite

ruban, angela1004, & Saiful, S. (2023). Transplantasi Terumbu Karang Untuk Pemanfaatan Berkelanjutan. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Nusantara, 4(4), 3372-3379. Retrieved from https://ejournal.sisfokomtek.org/index.php/jpkm/article/view/1798