Meningkatkan Konsep Diri Warga Binaan Melalui Praktek Lectio Devina Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kupang
DOI:
https://doi.org/10.55338/jpkmn.v5i4.4651Keywords:
Warga Binaan Konsep Diri Lectio Devina, Inmate Self Concept Lectio DevinaAbstract
Warga binaan yang sedang menjalani hukuman hilang kebebasan dalam hidup, hilang hak-hak yang semakin terbatas, perolehan label penjahat yang melekat pada diri warga binaan, dan hidup terpisah dari keluarga. Keadaan seperti ini dapat mengakibatkan warga binaan memiliki konsep diri yang negatif. Konsep diri yang negatif ditandai dengan : tidak tahan kritik yang diterimanya dan mudah marah atau naik pitam, suka menerima pujian, Cenderung bersikap hiperkritis: Ia selalu mengeluh, mencela atau meremehkan apapun dan siapapun. Mereka tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain, Cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain: Ia merasa tidak diperhatikan, karena itulah ia bereaksi pada orang lain sebagai musuh, sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan, berarti individu tersebut merasa rendah diri atau bahkan berperilaku yang tidak disenangi, misalkan membenci, mencela atau bahkan yang melibatkan fisik yaitu mengajak berkelahi (bermusuhan), Bersikap pesimis terhadap kompetisi: Hal ini terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Konsep diri yang negative seperti tidak boleh dibiarkan. Warga binaan yang memiliki konsep diri yang negaif dapat dibentuk menjadi positif. Salah satu metode yang digunakan yakni melalui praktek Lectio Divina. Lectio Divina merupakan praktek membaca Kitab suci secara perlahan-lahan dengan penuh cinta dengan tahapan Lectio, Meditatio, Oratio, Contemplatio dan Oratio. Melalui praktek Lectio Divina ini, warga binaan diharapkan dapat menghayati bacaan Firman Tuhan yang dapat mengubah konsep diri dari negatif ke positif.
Inmates who are serving sentences of loss of freedom in life, losing increasingly limited rights, acquiring the criminal label that sticks to them, and living separated from their families. Such conditions can lead inmates to have a negative self-concept. A negative self-concept is characterized by: being unable to tolerate criticism and easily getting angry or furious, liking to receive praise, being hypercritical: always complaining, criticizing, or belittling anything and anyone. They are not skilled and unable to express appreciation or recognition of others' strengths, tending to feel disliked by others: feeling unnoticed, which leads them to react to others as enemies, thus failing to create warmth and closeness in friendships, meaning the individual feels inferior or even behaves in an undesirable manner, such as hating, criticizing, or even involving physical actions like provoking fights (hostility), being pessimistic about competition: this is revealed in their reluctance to compete with others in achieving accomplishments. Negative self-concept should not be left unchecked. Inmates with a negative self-concept can be shaped into a positive one. One of the methods used is through the practice of Lectio Divina. Lectio Divina is the practice of reading the Holy Scriptures slowly and lovingly, with the stages of Lectio, Meditatio, Oratio, Contemplatio, and Oratio. Through this practice of Lectio Divina, the inmates are expected to internalize the reading of God's Word, which can transform their self-concept from negative to positive.
Downloads
References
Amelia, K. R. (2010). Hubungan Dukungan Sosial dengan Kecemasan Menghadapi Masa Pembebasan pada Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas Iia Pekanbaru. Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Agustina. 2021. Evaluasi Pelatihan Penyuluh Agama Islam Non PNS: Implementasi, Hamnatan dan dampaknya Terhadap Kompetensi Alumni. Jurnal Perspektif, Vol 14, No.1
Anfajaya, G. & Indrawati, E.S. (2016). Hubungan antara Konsep diri dengan Perilaku Asertif pada mahasiswa organisatoris Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang. Jurnal Empati, 5 (3), hal. 529-532. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/empati/article/view/15396/14
Chaplin, J.P (2001). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : Grafindo
Enjang, AS. 2009. Dasar-dasar Penyuuluhan Islam. Jurnal Ilmu Dakwah, Vol 4, No. 4
Jalaludin Rakmat. (2015). (ed 30). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya, Carlo
Johnston, William. (2001). Teologi Mistik. Yogyakarta: Kanisius
Mester, Carlos,O.Carm. (1996). Lectio Divina. Membaca dan Berdoa dari kitab suci. Malang : Dioma.
Pratama, F. A. (2016). Kesejahteraan Psikologis Pada Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Sragen. Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta
Riswandi. (2013). Psikologi Komunikasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sinaga, Triani Devita. 2018. “Pemulihan Alkitabiah Terhadap Konsep Diri Irasional Kaum Muda.” Missio Ecclesiae 7(2):259–86. doi: 10.52157/me.v7i2.90
Warren Rick The Purpose Driven Life, Kehidupan yang digerakkan oleh Tujuan Jawa Timur: Gandum Mas , 2002.
Widiarti, Pratiwi Wahyu. 2017. “Konsep Diri (Self Concept) Dan Komunikasi Interpersonal Dalam Pendampingan Pada Siswa Smp Se Kota Yogyakarta.” Informasi 47(1):135. doi: 10.21831/informasi.v47i1.15035.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2024 Merita Florawati Naisanu, Rita Rita, Yohanes Marno Nigha, Delsylia Ufi, Kurniawati Aseleo, Imelda Marina Djira, Eko Paulus Aprilianto Kale, Gedrida Amsikan, Pisson Lapa

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Merita Florawati Naisanu,
Institut Agama Kristen Negeri Kupang,
Indonesia


